IHSG Menguat ke 6.338 Imbas Meredanya Ketegangan AS-Iran, Analis Sebut Peluang Uji Level 6.500 Terbuka

IHSG ditutup menguat ke level 6.338 seiring meredanya ketegangan geopolitik AS-Iran.
Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:02:02 WIB

JAKARTA — Reli IHSG terjadi di tengah optimisme pasar terhadap upaya diplomatik penyelesaian konflik AS-Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan peluang kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz semakin besar, sementara Qatar mengonfirmasi negosiasi masih berlangsung. Harapan ini mendorong penurunan harga minyak dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.

Level Support dan Resistance yang Perlu Dipantau Investor

Head of Research Kiowom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai, selama IHSG mampu bertahan di atas area 6.246-6.211, indeks berpeluang melanjutkan kenaikan. Target berikutnya adalah menguji resistance di level 6.377, kemudian 6.450, hingga 6.500.

"Apabila kembali bergerak di bawah EMA50, IHSG berpotensi mengalami pullback sehat dengan area support berada di 6.246, 6.211, dan 6.161," ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.

Kebijakan Tarif AS Berpotensi Mengerek Biaya Produksi Global

Dari mancanegara, pemerintah AS dikabarkan tengah menyiapkan kebijakan harga minimum (price floor) dan tarif impor untuk polysilicon serta produk turunannya. Langkah ini merupakan bagian dari upaya mengurangi dominasi China dalam rantai pasok semikonduktor dan panel surya.

Kebijakan yang diperkirakan diumumkan akhir Agustus 2026 setelah investigasi Section 232 Trade Expansion Act selesai itu berpotensi meningkatkan perlindungan bagi produsen domestik AS seperti Hemlock Semiconductor dan Wacker Chemie. Namun, di sisi lain, langkah ini memicu kekhawatiran terhadap kenaikan biaya produksi di industri semikonduktor, panel surya, kendaraan listrik, dan elektronik konsumen.

Data Tenaga Kerja AS dan PDB Indonesia Jadi Katalis Berikutnya

Pelaku pasar kini mencermati perkembangan kebijakan The Fed menjelang rilis data ketenagakerjaan AS pekan ini. Jumlah lowongan pekerjaan (JOLTS) AS turun menjadi 7,359 juta pada Juni 2026 dari sebelumnya 7,537 juta pada Mei 2026, sedikit di bawah ekspektasi pasar.

Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia periode kuartal II-2026 yang diperkirakan tumbuh sekitar 5,1 persen year on year (yoy). Liza menilai realisasi di atas konsensus berpotensi menjadi katalis bagi sektor perbankan, konsumsi, konstruksi, dan properti.

Bursa Global Kompak Menguat, Saham Teknologi Pimpin Reli

Sentimen positif juga datang dari pasar saham AS yang pulih setelah investor kembali melirik saham-saham kecerdasan buatan (AI). Reli didorong oleh kuatnya laporan keuangan Microsoft dan Amazon yang memicu aksi beli pada sektor teknologi.

Wall Street kompak menguat pada Selasa (04/08), dengan indeks S&P 500 naik 1,79 persen ke level 7.736,52. Nasdaq Composite melonjak 3,32 persen ke 29.733,16, sementara Dow Jones Industrial Average menguat 1,71 persen ke 54.085,88.

Bursa kawasan Asia pagi ini juga didominasi penguatan. Nikkei naik 3,17 persen ke 65.984,00, Kospi menguat 4,16 persen ke 6.634,41, dan Shanghai naik 0,42 persen ke 3.839,4. Adapun indeks Straits Times melemah tipis 0,67 persen ke 5.574,26. Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah siap menambah penempatan dana dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke perbankan Himbara guna menjaga likuiditas dan mempercepat pemulihan ekonomi.

Reporter: Gemilang Ramadhan