YOGYAKARTA — Pusat Studi Sustainability and Circularity (PSSC) Universitas Tidar (Untidar) memperkenalkan hasil riset pengolahan sampah yang menghasilkan energi dan paving block. Teknologi ini merupakan buah kerja dua tahun terakhir dan mulai diaplikasikan di sejumlah lokasi.
Pengembangan teknologi ini berangkat dari persoalan sampah yang volumenya terus meningkat di kawasan DI Yogyakarta dan sekitarnya. PSSC Untidar mencoba menawarkan solusi yang tidak sekadar memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain.
Dua Produk Utama: Energi dan Paving Block
Dari proses pengolahan tersebut, tim riset menghasilkan dua produk utama. Pertama, energi yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pembakaran atau listrik. Kedua, paving block yang dibuat dari residu atau sisa olahan sampah.
Pendekatan ini memungkinkan sampah yang semula hanya dibuang menjadi bahan baku bernilai guna. Dengan begitu, beban tempat pembuangan akhir bisa ditekan.
PSSC Untidar menilai teknologi ini cocok diterapkan di daerah yang menghadapi keterbatasan lahan TPA. Paving block hasil olahan juga bisa dipakai untuk kebutuhan infrastruktur lokal.
Riset yang Keluar dari Laboratorium
Selama dua tahun, tim peneliti menguji berbagai formulasi dan metode pengolahan. Hasilnya kemudian dibawa keluar dari laboratorium untuk diuji di lapangan.
Langkah ini menandai tahap baru bagi PSSC Untidar, dari riset murni menuju penerapan nyata. Teknologi yang dikembangkan diarahkan agar bisa diadopsi oleh pemerintah daerah maupun pengelola sampah.
Peluang Adopsi di Daerah
Persoalan sampah masih menjadi tantangan serius bagi banyak kabupaten dan kota di DI Yogyakarta. Tempat pembuangan akhir yang penuh dan tingginya timbulan sampah harian membuat solusi pengolahan di sumber menjadi kebutuhan mendesak.
Teknologi yang dikembangkan Untidar menawarkan salah satu jalan keluar. Jika diterapkan secara luas, sampah tidak lagi berakhir menumpuk di TPA, melainkan diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi.
PSSC Untidar berharap hasil riset ini bisa mendorong kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha. Penerapan di tingkat kampung dan kelurahan dinilai memungkinkan bila ada pendampingan teknis.
Ke depan, tim riset akan terus menyempurnakan metode pengolahan agar lebih efisien dan mudah diterapkan. Pengembangan ini diarahkan pada solusi yang murah, sederhana, dan bisa direplikasi di berbagai daerah.