Perak dan Saham Teknologi AS Jadi Penopang Baru Bursa Berjangka RI, Emas Masih Juara

Emas tetap menjadi instrumen logam mulia paling likuid dan paling banyak ditransaksikan nasabah di dalam negeri.
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 17:07:02 WIB

DI YOGYAKARTA — Pernyataan Nino tersebut mengemuka dalam program Power Lunch CNBC Indonesia, Senin (10/8/2026). Ia menjelaskan, tertahannya kenaikan suku bunga The Fed menjadi katalis utama yang menjaga minat investor terhadap instrumen logam mulia, khususnya emas. Kondisi ini membuat emas tetap menjadi instrumen yang paling likuid dan paling banyak ditransaksikan oleh nasabah di dalam negeri.

Perak Ikut Menanjak di Tengah Ketidakpastian Global

Selain emas, Nino menyoroti pergerakan harga perak yang mengalami kenaikan cukup signifikan. Ia menilai, perak kerap dianggap sebagai instrumen pelengkap emas dengan volatilitas lebih tinggi, sehingga menarik bagi trader yang mencari keuntungan jangka pendek di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu.

"Perak juga mengalami kenaikan yang cukup tinggi di tengah ketidakpastian saat ini," ujar Nino dalam wawancara tersebut. Ia menambahkan, pergerakan ini sejalan dengan sentimen risk-off yang masih menyelimuti pasar keuangan global.

Saham Teknologi AS Jadi Magnet Baru bagi Trader Lokal

Dari lini produk non-komoditas, Valbury melihat adanya peningkatan minat terhadap perdagangan kontrak berjangka yang mengacu pada indeks saham Amerika Serikat. Segmen ini dinilai menarik, terutama untuk saham-saham berkapitalisasi besar di sektor teknologi yang kerap menjadi motor penggerak Wall Street.

Nino menjelaskan, produk ini memberikan alternatif diversifikasi bagi trader Indonesia yang ingin bereksposur ke pasar global tanpa harus membuka rekening di luar negeri. "Prospek transaksi saham Amerika Serikat juga cukup menarik bagi trader bursa komoditas berjangka Indonesia, utamanya untuk saham terkait teknologi," jelasnya.

Ekspektasi Suku Bunga The Fed Jadi Penentu Arah Pasar

Kunci dari optimisme ini adalah sikap bank sentral AS yang diharapkan tidak lagi agresif menaikkan suku bunga. Pasar berharap siklus pengetatan moneter telah mencapai puncaknya, yang biasanya menjadi angin segar bagi harga aset berisiko maupun logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil (yield).

Jika ekspektasi ini terbukti benar, Nino memperkirakan arus transaksi di bursa berjangka domestik akan semakin ramai. Investor yang selama ini cenderung wait and see diprediksi akan kembali aktif mencari peluang di berbagai instrumen, baik itu emas, perak, maupun derivatif saham global.

Apa Artinya Bagi Investor dan Industri

Meningkatnya minat terhadap produk derivatif global ini menjadi sinyal positif bagi industri bursa berjangka di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa trader lokal tidak lagi hanya berfokus pada komoditas, tetapi juga mulai adaptif terhadap instrumen keuangan global yang lebih kompleks.

Bagi investor ritel, kondisi ini membuka peluang diversifikasi portofolio yang lebih luas. Namun, perlu diingat bahwa perdagangan kontrak berjangka, terutama yang berbasis leverage, memiliki tingkat risiko yang tinggi dan membutuhkan pemahaman mendalam mengenai pergerakan pasar global. Investasi mengandung risiko.

Reporter: Tsaniyatun Nafiah