Marib Memanas: Houthi dan Pasukan Pemerintah Yaman Bentrok

Penulis: Redaksi
Senin, 21 September 2026 | 00:02:01 WIB

NAVIGASI.CO.ID — Kelompok Houthi yang didukung Iran terlibat pertempuran sengit dengan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi pada Minggu. Eskalasi ini menandai upaya Houthi memperluas kontrol wilayah di tengah meningkatnya ketegangan dengan Riyadh.

Pertempuran berlangsung di beberapa front, terutama di sekitar Marib, salah satu kota terakhir yang masih dikuasai pemerintah Yaman di bagian utara. Menurut laporan yang beredar, kedua pihak mengerahkan kekuatan besar untuk menguasai jalur strategis.

Houthi berusaha mempertahankan momentum setelah serangkaian operasi militer dalam beberapa pekan terakhir. Sementara itu, pasukan pemerintah Yaman berupaya menahan gempuran dengan bantuan koalisi pimpinan Arab Saudi.

Marib Jadi Titik Krusial Perebutan Wilayah

Marib memiliki nilai strategis karena menjadi pusat produksi minyak dan gas Yaman. Penguasaan kota itu akan memberi Houthi keuntungan ekonomi sekaligus posisi tawar politik yang lebih kuat.

Sejak 2014, Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara. Pemerintah Yaman yang diakui internasional bermarkas di Aden, sementara koalisi Arab Saudi melakukan intervensi militer sejak 2015.

Konflik berkepanjangan ini telah menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. PBB mencatat jutaan warga Yaman mengungsi dan bergantung pada bantuan internasional untuk bertahan hidup.

Ketegangan dengan Arab Saudi Kembali Memanas

Serangan Houthi terhadap infrastruktur Arab Saudi, termasuk fasilitas minyak dan bandara, meningkatkan tensi kedua pihak. Riyadh menuduh Teheran memasok senjata dan teknologi rudal ke Houthi.

Iran membantah terlibat langsung dalam konflik, meski secara politis mendukung perjuangan Houthi. Dukungan ini menjadi salah satu sumber ketegangan di kawasan Teluk.

Upaya gencatan senjata yang dimediasi PBB beberapa kali gagal. Masing-masing pihak menuntut syarat yang saling bertentangan sebelum menyetujui penghentian pertempuran.

Respons Internasional dan Prospek Perdamaian

PBB kembali menyerukan penghentian kekerasan dan membuka akses bantuan kemanusiaan. Utusan khusus PBB untuk Yaman mendesak semua pihak kembali ke meja perundingan.

Amerika Serikat dan negara-negara Eropa memantau eskalasi dengan kekhawatiran. Mereka khawatir konflik meluas dan mengganggu jalur pelayaran di Laut Merah serta Bab el-Mandeb.

Hingga kini belum ada tanda-tanda kedua pihak akan menghentikan operasi militer. Pertempuran di Marib diperkirakan berlanjut dalam beberapa hari ke depan.

Bagi Indonesia, konflik Yaman tidak berdampak langsung pada jalur perdagangan utama. Namun stabilitas Laut Merah tetap penting bagi kelancaran ekspor-impor melalui Terusan Suez.

Reporter: Redaksi