YOGYAKARTA — Sutradara Hanung Bramantyo mengenang Susilo Nugroho atau yang populer disapa Den Baguse Ngarso sebagai tokoh besar yang berperan penting dalam perjalanan kariernya. Kabar berpulangnya seniman serba bisa itu diterimanya pada Senin (21/9) malam, dan ia langsung berencana menyambangi kediaman almarhum.
"Saya sedih, saya baru dikabarin, dan hari ini mau ke sana, Saya mengucapkan belasungkawa atas kehilangan yang sangat besar," ujar Hanung, di Yogyakarta, Senin (21/9) malam.
Kagum Sejak Menonton Teater Gandrik di Bangku SMA
Hanung mengaku tidak pernah absen menonton pementasan Teater Gandrik sejak masih duduk di bangku SMA. Dari panggung itulah ia menantikan kemunculan Den Baguse Ngarso, sosok yang kemudian ia sebut sebagai senior dan inspirator.
Kekaguman itu tidak berhenti di panggung teater. Hanung juga mengikuti penampilan Den Baguse di layar kaca, termasuk sinetron yang menurutnya punya tempat tersendiri di hatinya.
"Beliau tokoh dan senior saya, karena sejak saya masih SMA, saya tidak pernah absen menonton teater Gandrik dan yang saya tunggu-tunggu ya Den Baguse. Saat ada acara di televisi ada Den Baguse Ngarso, saya tidak pernah absen dan selalu nonton sinetron itu dan membuat saya itu sinetron yang tidak pernah tergantikan," kenangnya.
Dipaksa Main di Film Ipar Adalah Maut
Rasa kagum dan pengaruh besar almarhum mendorong Hanung meminta langsung Den Baguse Ngarso terlibat dalam karya terbarunya. Ia mengaku "memaksa" sang senior untuk ikut bermain dalam film Ipar Adalah Maut.
"Karena itu makanya pada saat saya membuat film Ipar Adalah Maut, saya memaksa Den Baguse harus main di sini dan ternyata beliau memberi sesuatu yang luar biasa di situ," kata Hanung.
Keterlibatan itu menjadi salah satu penampilan terakhir Den Baguse di layar lebar. Bagi Hanung, sosok almarhum bukan sekadar senior di dunia seni peran, melainkan figur yang membentuk cara pandangnya terhadap teater dan film sejak masa muda.