Breaking

Tarif Angkut Laut Tertekan, Orderbook Kapal Global Capai 38,7%

RE
Kamis, 27 Agustus 2026
Tarif Angkut Laut Tertekan, Orderbook Kapal Global Capai 38,7%
Rasio orderbook kapal global terhadap armada aktif mencapai 38,7 persen, menandai tekanan pasokan di industri pelayaran kontainer.

NAVIGASI.CO.ID — Industri pelayaran kontainer global tengah menghadapi tekanan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Rasio orderbook terhadap armada aktif kini menembus level yang secara historis menjadi sinyal peringatan bagi stabilitas tarif angkut (freight rate). Kondisi ini terjadi di tengah proyeksi pertumbuhan permintaan angkutan kontainer yang hanya berkisar 3-4 persen tahun ini, sementara pertumbuhan kapasitas armada diperkirakan mencapai 4,2 persen.

Dominasi Kapal Besar dan Kekhawatiran Kelebihan Pasokan

Global Ship Lease, menggunakan data Maritime Strategies International (MSI) per 30 Juni, mencatat rasio orderbook terhadap armada mencapai 39,1 persen. Lebih dari separuh pesanan atau 55,2 persen ditujukan untuk kapal berkapasitas 10.000 TEUs ke atas. Kapal-kapal raksasa ini umumnya dioperasikan pada rute arteri utama seperti Asia-Eropa dan trans-Pasifik, segmen yang paling rentan terhadap kelebihan pasokan.

Kontrak pada kuartal kedua saja mencatatkan 164 unit kapal dengan total kapasitas sekitar 866.000 TEUs. Sektor kapal pengumpan (feeder) dan kapal regional berukuran sedang justru memiliki prospek lebih baik. Usia rata-rata 25 persen kapal tertua di segmen di bawah 10.000 TEUs mencapai 21-28 tahun, dan jika kapal berusia di atas 25 tahun dimusnahkan, pertumbuhan bersih armada segmen ini hingga 2030 hanya sekitar 0,7 persen.

Rute Alternatif dan Penyerapan Kapasitas

Ancaman kelebihan pasokan tidak serta-merta menekan tarif dalam waktu dekat. Pengalihan rute akibat konflik di Laut Merah telah menyerap lebih dari 2 juta TEUs per tahun sejak 2023 karena jarak tempuh lebih jauh. Analis memperkirakan jika jalur Suez kembali normal, akan terjadi pelepasan kapasitas efektif setara 12 persen lebih banyak TEU-miles.

Meski demikian, sejumlah operator mulai mengembalikan rute pelayaran mereka ke Terusan Suez di tengah eskalasi serangan terhadap kapal dagang. Keputusan ini menjadi variabel kunci yang akan menentukan kecepatan tekanan tarif di pasar.

Dominasi Galangan China dan Transisi Bahan Bakar

Galangan kapal China masih mendominasi aktivitas pemesanan baru. Pada kuartal kedua, galangan China mengamankan mayoritas kontrak, sementara galangan Korea Selatan hanya memperoleh 10 pesanan. Dari sisi bahan bakar, sekitar 65 persen orderbook yang ada dilengkapi kemampuan bahan bakar alternatif seperti LNG dan metanol. Namun, momentum pemesanan pada 2026 cenderung lebih hati-hati karena pemilik kapal mempertimbangkan ketersediaan bahan bakar, regulasi, dan ketidakpastian teknologi.

Dampak bagi Pelabuhan dan Industri Pelayaran Nasional

Gelombang kapal besar ini akan menciptakan tekanan berkelanjutan pada pelabuhan-pelabuhan utama dunia, termasuk di Indonesia. Kebutuhan kedalaman alur, kapasitas crane, dan area penumpukan akan meningkat seiring frekuensi kunjungan kapal 14.000-24.000 TEUs. Pelabuhan-pelabuhan besar yang mampu melayani kapal raksasa akan diuntungkan, sementara pelabuhan regional akan lebih bergantung pada pasar kapal pengumpan yang pasokannya lebih ketat.

Bagi industri logistik nasional, kondisi ini berarti tarif angkut ekspor-impor berpotensi lebih fluktuatif. Operator pelayaran diperkirakan akan merasionalisasi jaringan, memberlakukan blank sailing, atau memperlambat kecepatan kapal untuk menyerap kapasitas berlebih. Langkah-langkah ini pada akhirnya memengaruhi waktu tempuh dan biaya logistik di dalam negeri.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua