Jogja Culture Festival 2026 Digelar Oktober-November, Angkat Budaya Lewat Musik, Kuliner, dan Olahraga Anak Muda
YOGYAKARTA — Ketua Sekber Keistimewaan DIY Widihasto Wasana Putra menyebut festival ini sebagai gagasan yang ingin menggerakkan ekonomi kreatif berbasis anak muda dengan berbagai pendekatan.
Pendekatan yang dimaksud mencakup tiga jalur sekaligus: budaya, olahraga, dan seni. Ketiganya dirancang menyasar generasi muda tanpa meninggalkan esensi pengenalan sejarah dan budaya Yogyakarta.
"Saya mencoba memahami Jogja Culture Festival ini adalah gagasan yang ingin menggerakkan ekonomi kreatif berbasis anak muda dengan berbagai pendekatan," kata Widihasto pada konferensi pers di Yogyakarta, Kamis.
Budaya Dikemas Lewat Permainan Ringan dan Aktivitas Anak Muda
Widihasto menilai pendekatan-pendekatan tersebut sengaja dibuat ringan agar mudah diterima kalangan muda. Meski berbentuk permainan, ada muatan nilai yang ingin ditanamkan.
"Berbagai pendekatan itu mungkin sesuatu yang ringan, 'fun game' gitu, tapi memiliki esensi untuk orang itu mencintai budaya, orang itu tetap menyadari sejarah, dan terus membangun rasa kebersamaan antara satu dengan yang lain," ujarnya.
Festival ini juga diharapkan memperkenalkan budaya Yogyakarta kepada generasi Z dan generasi alpha. Menurut Widihasto, anak-anak muda saat ini menyukai musik, kuliner, dan olahraga, sehingga ketiga aktivitas itu kemungkinan besar akan mewarnai rangkaian acara.
"Anak anak gen z suka musik, menyukai kuliner, mereka juga menyukai olahraga, sehingga tidak menutup kemungkinan nanti Jogja Culture Festival itu akan juga banyak diwarnai dengan aktivitas musik, kuliner dan traveling," katanya.
Gabungkan AI, Teknologi, dan Warisan Budaya
Perwakilan Yayasan Kalimasada Nusantara, Syahdana Hardjo Baswara, mengatakan festival ini diarahkan sebagai kampanye budaya yang menyasar kalangan muda, terutama gen Z dan gen alpha. Tujuannya memperkenalkan sekaligus mendekatkan budaya pada generasi muda.
Hasil diskusi kedua pihak memunculkan ide menggabungkan isu-isu modern dengan warisan budaya Yogyakarta. Isu yang dimaksud antara lain kecerdasan buatan (AI) dan teknologi.
"Setelah diskusi bersama, Jogja Culture Festival ini juga kita arahkan untuk menggabungkan isu-isu yang modern seperti AI, teknologi, dan heritage budaya Yogyakarta yang sangat kental dan luar biasa," kata Syahdana.
Menurut dia, dibutuhkan aktivasi program yang diformulasikan khusus untuk mengangkat isu-isu tersebut. Sasaran kegiatannya adalah Gen Z, anak muda, dan seluruh elemen masyarakat Yogyakarta.
"Tapi kita ingin agar tujuan akhir dari Jogja Culture Festival, budaya Yogyakarta ini bertahan di segala tantangan modernisasi," ujarnya.
Permainan Tradisional hingga Diskusi Publik
Rangkaian acara festival mencakup permainan tradisional, olahraga bersama, dan diskusi publik tentang budaya. Narasumber diskusi akan disesuaikan dengan topik yang diinginkan peserta.
Seluruh kegiatan budaya itu berlangsung dari Oktober sampai November, dengan acara puncak pada November. Prosesi kegiatan dalam Jogja Culture Festival juga dielaborasi dengan peringatan HUT ke-270 Kota Yogyakarta.
"Berbagai kegiatan budaya itu akan terjadi dari Oktober sampai November, November nanti acara puncaknya. Jadi prosesi kegiatan dalam Jogja Culture Festival juga dielaborasi dengan HUT ke-270 Kota Yogyakarta," kata Syahdana.